P/L
Kemarin sore aku terlibat dalam sebuah pembicaraan yang rada sensitif soal gender. Dimulai dari topik tentang seorang kakek yang punya 95 orang istri, atau yang punya istri di masing-masing provinsi, sampai ulama tersohor yang seketika hilang dari peredaran dan dicaci maki publik gara-gara mencerai istrinya demi wanita yang lebih muda.
Berhubung di mobil isinya cewek semua, ya jelas orientasi percakapannya adalah kejelekan laki-laki. Mulai dari hobi mereka “belanja” mata, ngegombal, selalu berorientasi nafsu, tentang paranoia nikah dengan ulama karena rata-rata punya anak banyak, dan yang pasti sampai ke generalisasi bahwa laki-laki itu brengsek.
I was complete quiet when it came to that so-so-conslusion. Mau jawab atau ikutan debat selain udah capek ngomong sepanjang perjalanan, pasti bakal dapet disagreement 100% (secara cewek semua), atau mungkin balik dieme-eme dengan “Ah cowok kamu juga pasti gitu deh, siapa tau aja di belakang kamu mah…” karena tadi itu bukan pertama kali aku terlibat dalam pembicaraan kayak gitu. Ini bukan tentang cowok aku, karena aku punya perspektif kayak gini pun ngeliat dari orang lain. Dan ini selalu ada dalam pikiranku pas negative thoughts dan prejudices itu keluar dari temen-temen cewek aku: “Emang cewek nggak kayak gitu?”; atau “Sesuci itukah posisi cewek dalam suatu hubungan?”
Dari dulu aku merasa aku punya porsi yang seimbang antara temen cewek dan cowok. Dan aku juga mendengar cerita seimbang dari keduanya. Pertama, tentang cowok yang nggak setia, dan jelalatan tiap liat cewek yang lebih cantik dari pasangannya. Aku nggak setuju sama pernyataan ini. Aku punya temen cowok yang nyimpen rasa sukanya selama 3 tahun sejak ditolak. Walau dalam waktu 3 tahun itu dia malah sering gonta-ganti pacar, yang selalu dia ceritain dengar air muka paling jujur adalah cewek yang pernah nolak dia itu. Menurut aku, hal kayak “Cowok tuh walau sering ngegombal bilang kita cantik, ntar kalau ada yang lebih dari kita juga pasti kita ditinggal…” cuma bagian dari yang namanya cemburu buta. Karena pada kenyataannya bakal selalu ada orang yang lebih cantik secara fisik daripada kita. Dan sebenernyapun, cewek juga banyak kok yang suka jelalatan kalau liat cowok ganteng. Bullshits atau gombal bukan masalah gender.
Kedua, tentang cowok yang kasar. Aku sebenernya buta sama hal ini, aku nggak pernah ngalamin dan nggak perah ngeliat. Aku baru tau ada yang kayak gini sejak kelas 2 SMA. Dimana ada pasangan yang kalo berantem suka bentak-bentakan, ngomong kasar, dan sampe ke fisik. Ya masuk kategori KDRT aja gitu. Tapi tetep bertahan dan selalu balik bareng. Pertanyaannya sederhana aja: kenapa pihak yang dikasarin selalu pasrah dan dengan gampangnya maafin? Karena pernikahan aja bisa gagal gara-gara hal kayak gini. Mereka bahkan belum terikat secara hukum atau agama. Sisanya, aku nggak bisa komentar lagi.
Ketiga, tentang kehidupan urban dimana para perempuan lebih memilih karier super tinggi, sedangkan punya anak kadang dihindari. Emang bener sih, kalau di zaman sekarang populasi dunia udah terlalu banyak. Tapi kayak yang Mamaku selalu bilang, perempuan itu punya kodrat. Nggak ada yang salah kalau ingin terus membina karier, tapi sebagai orang yang berpendidikan jangan pernah berharap negara ini punya pendidikan yang maju kalau perempuannya sendiri enggan ngasih pendidikan pertama buat anak-anaknya.
Keempar, tentang orientasi cowok yang selalu ke arah nafsu. Untuk hal yang ini juga, aku lumayan buta. Karena mata aku tentang hal ini juga baru kebuka sekarang-sekarang. Yang aku jadiin poin dalam hubungan lebih banyak tentang bertukar pikiran dan belajar empati. Lagi-lagi aku gak bisa terlalu banyak komentar, tapi pertanyaan pangkal buat masalah ini cuma satu: Kenapa ceweknya marah-marah dan ngatain cowoknya mesum kalau emang nggak mau? With or without intention, wasn’t that you who permitted him, at all?
Pokoknya bagi aku, nggak ada yang lebih brengsek atau yang lebih bodoh. Aku nggak ngebela gender manapun. Perempuan dan laki-laki bisa melakukan kesalahan yang sama. Dan karena semua individu diciptakan nggak sama, generalisasi adalah hal yang salah buat diterapin ke salah satu gender. Dua-duanya sama. Tuhan Maha Adil, laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan yang baik pula. Laki-laki yang jahat akan mendapatkan perempuan yang jahat pula. Lagian pada kodratnya, perempuan dan laki-laki diciptakan untuk saling melengkapi, kan?
