#27 Otak kanan, kiri.

Aku ingat detail-detail bersamamu.

Sekarang balkon itu sudah beralih fungsi. Dan katanya sebentar lagi bangunannya akan dihancurkan. Tapi dari luar pagar aku masih bisa melihat dua buah kursi citos yang setia bertengger disana. Seperti merpati. Yang dulu diisi kita.

Ruangan itu kini berubah total. Segala sudut sudah diisi barang yang berbeda. Hanya tonggak-tonggak bendera yang masing bersisa sama. Dan cat hijau noraknya dengan tembok bolong beruntuhan. Dan gorden putih tipis yang mirip kaca jendela angkot zaman sekarang.

Bangunan kecil di belakang sekolah itu masih sama. Dengan Si Mang yang giginya ompong dua buah. Dengan taman bunga dadakan untuk parkiran mobil paling mewah di sampingnya. Dengan permen berbungkus quotes yang seakan bisa menebak isi hari. Dengan bangku kayu dicat biru retak-retak. Dengan bangku yang selalu berusaha kugeser karena aku tau aku belum mampu. Dengan menu yang sama, dan cabai hijau kecil-kecil yang harus dipotong sendiri.


Tempat yang layaknya lokasi shooting film cinta segitiga vampir itu masih sama. Pohonnya tinggi dan hitam-hitam, dan daunnya tajam. Sejak itulah aku suka pada nama taiga. Pucuk daun pertamanya masih sama.

Sulitnya menerima perbedaan nggak akan pernah sebosan menjalani persamaan.

Salam sayang,
Si perengek.

10

February