#8 Plester
Hari ini, aku sengaja menulis surat malam-malam. Karena hanya selewat yang aku ceritakan. Selewatan yang menjadi awal cerita di hari-hari berikutnya. Yang terjadi pada malam hari. Malam hari sekitar tiga tahun yang lalu, hari Jum’at, dan hari itu hujan mengguyur bumi sepanjang hari.
—-
Sudah hampir sebulan aku menjalani masa-masa rehabilitasi patah hati. Dan celakanya, tanpa sadar aku telah mencandu lagi. Ya, kamu itu candu. Aku nggak peduli dengan komentar tentang yang berbunyi “Ah, paling cuma bakal jadi pelarian.” karena aku menikmati perasaan ini. Yang kurasa lebih membuat melayang tanpa ada beban. Tapi karena aku manusia, aku nggak akan pernah puas. Lebih lebih lebih lagi. Lama-lama, rasa itupun muncul. Ingin memiliki?
—-
“Emm.. Jadi sebenernya tadi sore itu…”
“Iya ngerti kok..”
“Kalau gitu.. Hmm… Gimana kalau kita coba aja dulu?”
“Hah? Coba?”
“Iya itu. Coba aja dulu. Ya aku sama kamu.”
“Maksudnya? Duh.. Haha”
‘Ya, kita jadian.”
—-
Sore itu aku duduk di balkon sambil menunggu… Hujan. Sambil menunggu ada ilham datang untuk membantuku membereskan semua pikiranku ini. Sambil mencoba membalut lukaku yang sudah sangat hampir kering. Aku mencari-cari plester, dan aku nggak tahu kalau plesterku sedekat itu.
—-
“Jadi kita kita pacaran?”
“Iya..”
“Ehm.. Oke. Emm.. I love you.”
“I love you too!”
—-
Dan malam itu, ketika plesterku sudah rapat menempel diatas lukaku, kamu menjadi milikku.
Dan pertama kalinya akhirnya aku katakan, aku mencintaimu.
Selamat malam!
