#5 Menunggu Kering
Halo, selamat sore! Maaf ya, hari ini aku terlambat mengirim surat untukmu. Kamu nggak marah kan?
—-
Obat merah yang kupakai akhirnya mulai kering, bersamaan dengan lukaku. Mulai kering, masih ada sisa goresan yang masih basah dan terasa perih. Dia, pacarnya (atau sahabatku), dan kamu. Kalian berada di tempat yang sama, di waktu yang sama. Kutemui setiap hari. Dan karena itulah hidupnya seakan-akan dipaksa naik roller coaster setiap hari. Kadang aku harus sekuat tenaga menyembunyikan muka merah marah ketika melihat mereka bergandengan tangan di depanku. Namun sesaat kemudian aku kembali dengan susah payah mengontrol bias merah malu ketika kamu tersenyum padaku. Lalu aku kembali bertemu dengan mereka dan harus cepat-cepat membuang muka sambil membendung air mata. Tetapi aku juga dengan cepat menyunggingkan senyum super lebar ketika punya kesempatan untuk sekedar saling menyapa “Hai..” dengan kamu. Hampir sebulan lamanya aku menjalani hari-hari penuh emosi itu. Sambil menunggu lukaku kering sepenuhnya.
—-
Kamu tau nggak sih rasanya tanpa sadar membagi hati dan pikiran menjadi dua bagian? Rasanya aneh. Seperti jam pasir yang dibolak-balik. Tapi rasa penasaranku mengalahkan semua pengorbananku yang dulu. Penasaran sama kamu, yang entah kenapa bisa menyita sebagian besar perhatianku darinya. Bahkan mengganti posisi “Kepada” di setiap surat ini darinya. Aku benar-benar penasaran.
Well, I think something better is coming up. But, who ever said that it was easy to let go?
Salam,
Dari aku yang penuh rasa ingin tahu.
