#4 Hujan yang Pertama
Halo, selamat pagi! Semangat ya hari ini! Semangat karena semua mimpi kita di masa depan tergantung kita di hari ini. Hari ini aku sengaja melanjutkan cerita ini lebih pagi, karena hujan tadi malam memudahkanku untuk mengingat semuanya.
—-
Aku selalu merasa seperti orang bodoh di depanmu. Mulai dari bicara nggak karuan, sembunyi di balik punggung temanku ketika berpapasan denganmu, tersenyum seperempat lingkaran saat menyapamu, dan tertawa kegirangan ketika kamu sudah jauh melewatiku. Sekali lagi, memang apa sih bedanya suka dengan cinta? Semua rasanya sama. Cuma rasanya sekarang jauh lebih menyenangkan dan tidak… Sakit.
—-
Hari itu aku sengaja berangkat les lebih cepat dari biasanya, karena langit mulai gelap mendung, gerimis juga sudah turun sedangkan tempat bimbingan belajarku cukup jauh dari sekolah. Aku mempercepat langkahku seiring hujan yang juga mempercepat rintiknya. Sambil menunduk kesal menghindari air yang membasahi muka, aku mengingat senyummu saat kita berpapasan di koridor saat aku menuju lab komputer tadi. Aku jadi senyum-senyum sendiri dan perasaan yang membuncah ini seolah mendorong kepalaku untuk mendongak. Mukaku tiba-tiba memerah melihat siapa yang berjalan di depanku. Nggak salah lagi, itu pasti kamu. Yak, sekarang aku sudah bisa mengenalimu dari belakang sekalipun. Lagi-lagi dengan bodohnya aku berusaha mengikuti ritme langkahmu. Nggak melambat, nggak menyusul. Rasanya kayak stalker deh. But it feels good anyway. Pelan-pelan, di bawah hujan. Aku sampai di tempat les dengan hati melompat-lompat. Sejak hari itu, semua rasa benciku pada hujan menghilang. Sesederhana itu, sosokmu dari belakang mengubahnya.
—-
Okay. Aku harap malam ini hujan lagi. Kalau kamu?
Salam,
Yang benci memakai payung.
