#3 Rewind

Halo, selamat siang! Masih mau mendengar ceritaku, kan? Tapi untuk hari ini singkat saja, ya.

Kembali ke surat pertama, tentang yang namanya pelarian. Kesannya sungguh jahat dan sementara. Aku masih percaya kalau perasaan kali ini namanya suka. Tapi, apa bedanya sih dengan cinta? Aku deg-degan setiap kali berpapasan denganmu di koridor ketika aku mau jajan di belakang sekolah. Aku selalu antusias setiap kali ada momen yang mengharuskanku satu ruangan denganmu. Aku selalu heboh tiap kali aku menceritakan tentangmu pada teman-temanku. Setidaknya, pelan-pelan pikiranku yang hampir habis dipakai untuk meratapinya mulai memikirkan hal yang lain. Ngomong-ngomong, dia sudah benar-benar melupakanku belum ya?

—-

Handphoneku berbunyi dengan bunyi notifikasi sms yang beda dari sms-sms lainnya.

“Hai. Lagi apa?”

“Diem aja. Kenapa sms?”

“Gapapa pengen aja, hehe.”

“Gak smsan sama pacar kamu?”

“Dia lagi belajar. Mending sms kamu yang lagi diem aja.”

“Hmm ada perlu apa sih?”

“Gak ada apa-apa sih. Ya aku cuma masih butuh kamu aja.”

Masih butuh aku aja. Masih butuh aku. Butuh aku.

Kalimat yang mengandung berjuta harapan itu dengan mudahnya dia sampaikan padaku. Kamu pasti tahu kan, aku sudah kenyang sama yang namanya harapan kosong seperti itu. Tapi nyatanya aku masih minta tambah.

“Okay. Kamu sendiri lagi apa?”

Dan secara tiba-tiba aku berhenti memikirkan kamu.

—-

Jangan marah. Ceritaku masih panjang. Tetap menunggu, ya?

Salam,

Dari aku yang labil.

16

January