#2 Efek Samping
Halo, selamat siang
Aku sedang menulis puisi untuk tugas Bahasa Indonesia-ku, tapi menulis surat untukmu jauh lebih menggelitik dan memaksa hatiku
Baiklah, akan aku lanjutkan tahap berikutnya, yaitu ketika aku merasakan yang namanya efek samping.
——-
Obat merah warnanya memang menarik. Yaiyalah, merah. Daring, bersemangat, hot, ceria. Warna merah bisa jadi apapun tergantung subyek yang mengartikannya. Tapi namanya saja obat, pasti ada rasa sakit dan membawa paranoia bagi penggunanya. Aku sedang trauma sama yang namanya cinta. Dan semua tau kalau kadang adaptasi memperparah luka. Efek samping, namanya.
——-
“Boleh gak ya kalau gue jatuh cinta lagi? Secepet ini?”
“Hah?”
“Iya itu, love at the first sight gitu deh.”
“Ah itu mah namanya bukan cinta.”
“Loh kenapa? I just can’t get my eyes of him.”
“Itu namanya cuma suka. Kalo cinta mah yang bikin lo pengen mati kemarin tuh.”
Deg. Cuma suka ya? Okay, we were so young we know nothing about love. Tapi efek obat ini mulai menjalar masuk ke dalam tubuhku, bahkan mulai merasuki pikiranku.
Ya, ada orang lain yang mulai aku pikirkan selain dia yang masih sempat-sempatnya menebar harapan kosong di depan mukaku.
Katanya move on itu susah?
Lagi-lagi aku harus berhenti di tengah cerita. Tapi aku janji aku melanjutkannya. Selama kamu masih mau menunggu. Dan aku tau kamu pasti menunggu.
Salam,
Yang tidak pandai menyembunyikan perasaan.
